Jumat, Juni 19, 2015

Refleksi Ritual Adat Koke Bale Demon Pagong

oleh: Fidelis Lein

Ritual adat koke bale demon pagong tahun ini baru saja berakhir. Rangkaian acara yang dimulai sejak tanggal 16 Juni 2015 hingga 18 Juni 2015 dengan ritual utamanya berupa Tuhuk Kelewon, Eten Kehin ke Waimaki, Opak Belun, Belo Howok dan Toto Dulat itu telah berakhir dengan puncak acaranya berupa Golen Lewo. Dari beberapa foto yang dipublikasikan oleh kaka arin dan kawan-kawan wartawan di media sosial terlihat jelas bagaimana suasana kebatinan mereka yang hadir dan terlibat dalam rangkaian acara ini. Ada deretan tua-tua adat yang memakai pakaian adat khas lewokluok, deretan ibu-ibu yang memakai kerimot khas lewokluok mengelilingi rumah adat sambil membawa persembahan syukur atas hasil panen berupa "lorit" yang telah tersusun rapih dalam nera-nera. Ada juga deretan ibu-ibu yang duduk menjaga rumah suku masing-masing, ada pula kelompok bapak-bapak di bagian meta meran yang bertugas menyiapkan masakan hewan kurban, deretan pejabat dan tamu undangan yang dengan serius dan hikmad mengikuti rangkaian acara tersebut.

Kami anak-anak demon pagong yang jauh dari kampung halaman pun seperti terbawa dalam suasana kebatinan yang sama. Mereka yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung, yang dekat maupun jauh terasa dipersatukan dalam satu ikatan yang sama. Semua mata terarah dan tertuju pada altar "nuba nara", tempat dimana Sang Pencipta Kehidupan, "Lera Wulan Tanah Ekan" menyatakan diriNya melalui tanda-tanda alam (tuak berwarna merah menyerupai darah) yang disaksikan sendiri oleh para leluhur kita pada waktu itu. Di "nuba nara" inilah sejarah tentang demon pagong tertutur hingga hari ini.

Tentunya ritual adat koke bale ini tidak sekedar seremoni belaka. Di dalam ritual ini, Sang Ilahi yang empunya hidup mempersatukan kita dengan para leluhur dan makluk ciptaan yang lain. Dalam setiap tahapan ritual adat ini terkandung pula simbol-simbol dan unsur-unsur yang sarat makna baik secara filosofis, sosial maupun moral. Ritual adat koke bale sejatinya adalah tata perayaan ibadat para leluhur kita sebelum mereka mengenal dan memeluk agama formal yang dibawah oleh para misionaris asing. Ritual adat koke bale pada akhirnya adalah suatu warisan tradisional, cara manusia zaman dahulu memuji dan memuja Sang Pencipta Kehidupan melalui penggunaan sarana-sarana alam. Suatu cara manusia zaman dahulu menyatakan rasa hormat dan syukur mereka atas anugerah hidup yang disediakan Tuhan melalui alam yang subur, air, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Maka tidaklah menherankan kalau kemudian dalam setiap lantunan doa berantai (amak/muken maran), ada penyebutan nama "Lera Wulan Tanah Ekan" dan "Nini Dayan Tanah Ekan".

Jika ritual adat koke bale diletakkan dalam konteks yang sama seperti kita memandang perayaan "ekaristi kudus" dalam tata perayaan liturgi gereja katolik, maka ada beberapa point yang harus menjadi refleksi bersama untuk perbaikan ke depan. Pertama, dalam perayaan ekaristi kudus kita dituntut untuk harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya sejak dari rumah menuju gereja, bahkan kita dianjurkan untuk selalu berpakaian yang layak dan pantas untuk Tuhan, sebisa mingkin berpantang/berpuasa satu jam sebelum perayaan ekaristi kudus dimulai, maka seharusnya dalam ritual adat koke bale, kita yang hadir juga harus mempersiapkan diri, mempersiapkan hati dan budi kita dengan baik. Setidak-tidaknya kita berdamai lebih dahulu dengan diri kita, memakai pakaian yang pantas, bila perlu memakai baju adat supaya pas dengan konteksnya. Kedua, dalam perayaan ekaristi kudus, kita juga datang dengan membawa serta segala beban hidup kita, segala persoalan hidup kita, entah berupa rasa syukur, rasa penyesalan akan dosa. Semua permohonan dan harapan-harapan itu kita serahkan kepada Tuhan. Maka dalam ritual adat koke bale seharusnya juga demikian. Segala sujud syukur dan permohonan serta harapan-harapan kita itu harus kita bawa dari rumah kita masing-masing untuk kemudian dipersatukan dengan doa-doa berantai melalui "amak/muke maran" yang dilantunkan oleh para tua-tua adat. Para tua-tua adat dan kita semua yang mengelilingi koke berdoa dan bersyukur kepada Lera Wulan Tanah Ekan atas hasil panen entah gagal atau melimpah, kita memohon agar diberi iklim yang baik (panas, hujan serta angin yang cukup) untuk musim panen berikutnya, kita memohon agar lewo tanah dijauhkan dari wabah penyakit dan gangguan roh-roh jahat (lewo pelate), memohon persatuan diantara suku-suku, keluarga-keluarga, memohon diberikan kesuburan bagi pasangan suami-istri agar berketurunan untuk paken maken suku, memohon agar para pemimpin masyarakat dan pemerintahan menjalankan tugas mereka dengan penuh amanah, dan juga memohon kedamain jiwa-jiwa para leluhur yang telah mendahului kita. Ketiga, dalam perayaan ekaristi kudus, kita juga membawa persembahan yang terbaik yang kita miliki untuk Tuhan sebagai tanda syukur kita dalam bentuk kolekte. Dalam ritual adat koke bale, persembahan yang terbaik yang bisa kita berikan bisa dalam bentuk hewan kurban yang kita sumbangkan, uang yang kita serahkan melalui suku masing-masing dan lebih-lebih "lorit" yang kita bawa dari rumah kita masing-masing. Lorit adalah lambang hasil bumi, hasil panen yang kita tanam di atas tanah adat demon pagong. Maka seharusnya lorit yang kita bawa adalah juga murni dari hasil ladang/kebun kita, bukan dari beras yang kita beli di toko atau dari beras raskin yang dibagikan pemerintah. Keempat, pada bagian akhir dari perayaan ekaristi kudus, kita juga diberi berkat perutusan oleh Tuhan melalui tangan imamNya untuk bekal hidup kita. Hal yang sama juga berlaku dalam ritual koke bale. Kita mendapat berkat melalui ritual "Toto Dulat". Setelah menerima toto dulat, kita merasa badan kita menjadi lebih ringan, lebih enteng, aura wajah kita menjadi lebih hidup, kita merasa kuat karena ada "ike kewaat lewotanah" yang menyertai kita, sama seperti Tubuh dan Darah Tuhan Yesus yang sudah kita terima dalam perayaan ekaristi kudus.

Sebagai anak-anak demon pagong kita pun diberi tugas perutusan untuk mewartakan kabar sukacita kepada sesama. Dengan profesi kita masing-masing kita diutus untuk berbagi kepada sesama, membangun hidup rukun dengan keluarga, suku dan selalu harmoni dengan alam. Jika sepulang dari ritual koke bale kita masih menaruh dendam pada sesama, masih sering gotung gatan ata naran, masih irih hati dan cemburu dengan kesuksesan tetangga kiri-kanan kita dan masih suka menjatuhkan orang lain, maka apa yang kita ikuti dalam ritual adat koke bale semuanya menjadi sia-sia belaka.

Karena itu, tantangan bagi kita anak-anak demon pagong saat ini adalah bagaimana menginternalisasikan nilai-nilai adat demon pagong itu dalam pola hidup kita sehari-hari. Jika kita mengaku diri sebagai anak-anak demon pagong, seharusnya tidak ada lagi cerita bahwa di kampung kita masih ada yang suka mencuri hasil kebun orang lain, masih ada orang yang suka menghamili istri orang, menghamili anak orang dengan tidak bertanggung jawab, selalu berhitung untung-rugi jika diminta memberikan sejengkal tanah untuk pembangunan fasilitas publik. Atau juga sering ribut dengan kaka arin dan opu pain hanya karena newa nura.

Para leluhur kita telah memberi teladan yang luar biasa. Mereka berkorban dengan darah untuk mendapatkan tanah dan membagikannya secara adil dan cuma-cuma kepada semua suku-suku yang mendiami tanah adat demon pagong. Mereka bermusyawarah dengan hati dan pikiran yang jernih demi keutuhan lewo dan suku, menetapkan hukum adat untuk mengatur tata tertip sosial baik dalam urusan perkawinan, kematian, pembagian newa-nura, relasi dengan pemerintah,dll.

Para leluhur kita tidak mengeyam pendidikan formal yang tinggi bahkan buta huruf, tidak mampu baca-tulis seperti generasi kita sekarang ini. Tetapi kedalaman hati dan pikiran mereka jauh melampaui zaman, yang hari ini kita anak cucunya baru tersadarkan untuk kembali pada nilai-nilai lokal (kearifan lokal) yang telah mereka tanamkan ribuan tahun yang lampau.

Semangat dan teladan inilah yang harus kita renungkan bersama, agar ritual adat koke bale yang selalu kita rayakan setiap tahun tidak berhenti hanya sekedar seremoni yang indah dipandang mata tetapi kering dalam penghayatan nilai-nilainya. Tanpa itu semua, kita akan semakin tergerus oleh perubahan zaman yang tak pernah mengenal kompromi. Hari ini kita menyaksikan budaya hedonisme, konsumerisme, materialisme dan individualisme bersanding dengan nilai-nilai tradisional ini. Mampukah kita menjaga dan merawatnya?

Kamis, April 23, 2015

Rindu Pulang Kampung

Entah kenapa tiba-tiba terbesit rasa rindu ingin pulang ke kampung halaman dengan membawa serta istri dan anak...maklum, sejak selesai kuliah di Malang dan hijrah ke Jakarta bulan Oktober 1998, baru dua kali saya pulang kampung. Yang pertama sekitar bulan April 2006, itupun kebetulan ada tugas dinas ke kota Maumere dalam rangka monitoring dan asistensi keuangan ke salah satu LSM Lokal di Maumere (Yayasan Cinta Kehidupan), untuk proyek Studi dan Advokasi Hak atas Pendidikan dan Layanan Kesehatan kerja sama LP3ES Jakarta dengan NZAID (New Zaeland AID).




Karena jarak Maumere-Larantuka hanya butuh waktu sekitar 6-8 jam perjalanan darat, saya memberanikan diri untuk minta cuti ke atasan selama 3 hari untuk pulang ke kampung halamanku di desa Blepanwa-Kecamatan Demon Pagong Kab.Flores Timur. Tiga hari di kampung terasa sangat pendek karena 2 harinya habis untuk perjalanan ke Larantuka mengikuti acara Pesta Komuni Pertama Ponakan di Gewayantana dan menemani Kepala Desa Blepanawa saat itu, Bapak Paulus Sani Lein untuk menghadiri acara kunjungan kerja anggota Komisi C DPRD NTT di Kantor Camat Larantuka. Agendanya adalah sosialisasi RAPBD NTT Tahun Anggaran 2006.

Perjalanan saya yang kedua adalah bulan Juli 2012...itupun tanpa persiapan karena kepulangan saya itu dalam suasana duka. Saya ingin melepas kepergian adik dari bapak saya yang bernama Anton Ike Lein. Beliau meninggal karena terjangkit penyakit TBC ketika bekerja di Sorong Papua..Saya merasa berutang budi karena bapak kecil saya inilah yang membiayai uang masuk kuliah saya untuk tahun pertama di Malang Jawa Timur tahun 1993.


Kerinduan saya yang terdalam adalah ingin berkumpul kembali bersama sanak saudara dan handaitolan di rumah kami yang sederhana dan sangat hangat, merasakan udara dingin nan sejuk yang menusuk hingga ke tulang sumsung, melihat alam pegunungan dan bukit ketika musim kemarau...dan tentu saja menikmati makanan kampung: jagung titi, kacang tanah, minum tuak putih, arak, gula aren, madu hutan dan tentu saja daging panggang tanpa bumbu dapur...





 
Maka, dalam beberapa tahun ini saya terus berdoa dan berharap, semoga suatu hari nanti kerinduan ini akan terbalaskan...dan tentu akan menjadi indah kalau pulang dan menetap selamanya di kampung agar bisa berbakti langsung kepada lewotanah tercinta...