Senin, Januari 20, 2014

Natal Bersama Ikatan Keluarga Tuak Ehan Jakarta

Tanggal 4-5 Januari 2014 yang lalu, Keluarga Besar 'Tuak Ehan" Jakarta mengadakan acara Natal Bersama 2013 di Wisma Musro Anyer-Banten. Acara Natal Bersama ini merupakan kegiatan rutin yang digagas pengurus Tuak Ehan untuk meningkatkan rasa keakraban dan kebersamaan diantara sesama warga Tuak Ehan yang tersebar di wilayah Jabodetabek. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 80 orang, termasuk anak-anak dan remaja. Suasana akrab dan hangat diselingi canda tawa khas Tuak Ehan begitu nampak dari raut muka para peserta.

Setelah tiba di Wisma Musro, peserta langsung disugihi minuman ringan yang disiapkan pihak wisma. Untuk makan siang, makanan dibawah sendiri oleh ibu-ibu dari rumah masing-masing. Ada yang membawa nasi, ada yang membawa sayuran rumpu-rampe, ada yang membawa ikan, ada yang membawa kerupuk dan ayam rica-rica. Makanan itu dikumpulkan kemudian dihidangkan untuk disantap bersama-sama.

Menjelang sore, suasana di depan wisma semakin ramai. Anak-anak yang sudah tidak sabaran langsung menceburkan diri ke dalam kolam renang yang ada di depan wisma. Tak ketinggalan, bapak-bapak pun ikut menceburkan diri ke dalam kolam renang. Ada yang pergi ke bibir pantai mencari siput dan kerang, ada yang memancing dengan alat pancingan yang sudah disiapkan dari rumah. Suasana semakin hangat dengan suguhan teh, kopi dan pisang goreng yang disiapkan pengelola wisma. 

Tepat pukul 17.00 sore, semua peserta sudah berkumpul di aula wisma untuk memulai acara yang dipandu oleh Fidelis Lein. Sebelum memulai sesi, peserta diajak bernyanyi lagu-lagu rohani "Hari ini Kurasa Bahagia", "Dalam Yesus Kita Bersaudara" dan "Kumendaki ke Bukit Sion". Pada sesi perkenalan, masing-masing kepala keluarga diminta untuk memperkenalkan anggota keluarganya masing-masing. Acara sessi pertama ditutup dengan game "ulang tahun kakek" untuk anak-anak.

Setelah makan malam, acara dilanjutkan kembali dengan kuis antar keluarga yang dipandu oleh Fidelis Lein, Eli Lein, dan Yolin Lein. Kuis ini berisikan pertanyaan seputar pengetahuan agama, tentang Kecamatan Demon Pagong,  tentang Paroki Bama dan tentang sejarah Tuak Ehan sendiri. Untuk keluarga yang nilainya paling rendah diberi hukuman berupa joget "goyang Caesar Yuk Keep Smile", yang mengundang gelak tawa semua peserta di tengah guyuran hujan dan bunyi pecahan ombak menghatam batu karang.

Tepat pukul 21.00 malam, acara dilanjutkan dengan renungan malam dan refleksi akhir tahun, yang dibawakan oleh Yohan Lein dan Hengki Hera. Suasana doa semakian marak dengan lagu-lagu pujian yang dipandu oleh bapak Agus Igo Goran, iringan petikan gitar oleh bapak Yan Pama Nedabang dan  alunan Keyboard yang dimainkan oleh Ovan Hera. Ada bagian-bagian doa yang dibawakan secara bergantian oleh masing-masing suku; Kabelen, Beribe, Lein, Hera, Tukan, Nedabang, Mukin, Hayon,Tobin, Kung, Lubur. Acara renungan malam ditutup dengan pembacaan sejarah perjalanan Tuak Ehan Jakarta sejak terbentuk tahun 1971, yang dibacakan oleh Ketua Tuak Ehan bapak Yangka Mukin. Acara kemudian dilanjutkan dengan joget "dolo-dolo" dan "jai" sampai pukul 02.00 malam. 

Keesokan harinya, pukul 09.00 pagi acara dilanjutkan dengan Ibadat Sabda yang dipimpin oleh Roy Mukin. Setelah itu acara dilanjutkan dengan lomba menggambar dan mewarnai untuk anak-anak usia SD yang dipandu oleh Eli Lein dan acara game untuk para remaja yang dipandu oleh Yolin Lein. Kemudian  ada lomba renang anak-anak dan bapak-bapak. Setelah makan siang, tepat jam
2 siang peserta kembali berkumpul di aula untuk pembagian hadiah lomba, door price  dan penyerahan bingkisan natal untuk para sesepuh Tuak Ehan. 

Kemudian dilanjutkan dengan foto bersama menghadap pantai. Setelah foto bersama, peserta langsung naik ke bus masing-masing untuk kembali ke Jakarta. Guyuran hujan disepanjang pantai Anyer menjadi kenangan tersisa mewarnai perjalanan pulang sore itu, tentu dengan pikiran yang segar dan hati yang penuh damai dan sukacita.  

Minggu, Mei 26, 2013

RAT Koperasi Simpan Pinjam Tuak Ehan Tahun Buku 2012

Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Tuak Ehan Jakarta kembali mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2012 pada tanggal 7 April 2013 di Rumah Bapak Rili Lein, Jl.Bandengan Utara Jakarta Utara. RAT tersebut dihadiri oleh 30 dari 51 anggota koperasi. 

Dari Laporan yang disampaikan oleh Ketua Koperasi Fidelis Lein dan Bendahara Hengki Hera tersebut, total asset tahun 2012 sebesar Rp 70.197.143, naik 29% dari tahun 2011 yang sebesar Rp 54.574.011. Total simpanan tahun 2012 sebesar Rp 48.699.500, naik 18% dari tahun 2011 yang sebesar Rp 41.265.500. Nilai pinjaman tahun 2012 sebesar Rp 61.500.000, naik 106% dari tahun 2011 yang sebesar Rp 29.912.000.Jumlah anggota yang memanfaatkan pinjaman adalah 16 orang dibandingkan tahun 2011 yang hanya 14 orang. Jumlah piutang pinjaman anggota tahun 2012 Rp 58.841.003 atau naik 75% dibandingkan tahun 2011 yang sebesar Rp 33.642.320. Adapun SHU bersih tahun 2012 adalah sebesar Rp 6.482.994, naik 133% dibanding tahun 2011 yang  sebesar Rp 2.780.346.

RAT Koperasi berhasil menyepakati beberapa hal diantaranya menyangkut penyelesaian tunggakan pinjaman. Untuk tunggakan pinjaman ini, kepada anggota diberikan tenggang waktu 6 bulan dari tanggal RAT untuk melunasi pinjamannya. Jika melewati batas waktu 6 bulan, maka akan dikenakan tambahan denda sebesar 0,5% per bulan dari saldo pinjaman. Untuk itu  pengurus diminta untuk segera melakukan pendekatan secara personal kepada anggota yang bersangkutan agar mereka mau menyelesaikan kewajiban mereka tersebut. 

Menyangkut besarnya pinjaman, bunga dan lamanya pinjaman, RAT sepakat tetap diberikan seperti tahun-tahun sebelumnya. Untuk besarnya pinjaman adalah 2 kali dari nilai simpanan. Bunga 2% saldo menurun dengan batas waktu pinjaman selama 10 bulan. Di luar dari keputusan ini, Pengurus diberi kewenangan untuk memberikan kebijakan khusus kepada anggota yang meminjam, dengan mempertimbangkan pengalaman pinjaman anggota tersebut pada tahun-tahun sebelumnya. Prioritas pinjaman yang pertama adalah untuk modal usaha yang sifatnya produktif, kedua, untuk pendidikan anak ketiga, untuk biaya kesehatan. Pinjaman yang sifatnya konsumstif tetap diberikan tetapi tetap hati-hati agar tidak merugikan koperasi maupun anggota yang bersangkutan dikemudian hari.

RAT sepakat untuk membagikan SHU tunai kepada anggota. Jika anggota tidak mengambil SHU tunai, maka SHUnya akan ditambahkan ke Simpanan Sukarelanya. RAT juga sepakat untuk memilih kembali Saudara Fidelis Lein sebagai Ketua, Saudara Hengki Hera sebagai Bendahara, Saudara Dami Hera sebagai Wakil Bendahara dan Saudari Nona Lein sebagai Sekretaris untuk 3 tahun ke depan, terhitung sejak tanggal 7 April 2013- 7 Maret 2016. 

Jika pada saat pendiriannya di pertengahan tahun 2007 lalu warga Tuak Ehan begitu pesimis dengan urusan yang berbau koperasi karena trauma dengan kegagalan koperasi Tuak Ehan yang pernah didirikan pada era tahun 1970-an, kini mereka begitu antusias untuk menjadi anggota koperasi karena sudah mulai merasakan adanya manfaat dari keberadaan koperasi simpan pinjam Tuak Ehan ini. Urusan pinjaman tidak dibuat berbelit-belit. Kalau ada uang ditangan bendahara, hari itu juga langsung diproses. Proses persetujuan pinjamanpun hanya melalui sms/telpon/email diantara pengurus dan anggota yang meminjam. Laporan perkembangan koperasi selalu disampaikan rutin tiap bulan pada saat arisan keluarga Tuak Ehan. Pengurus juga aktif mengirimkan sms untuk mengingatkan anggota untuk membayar simpanan dan pinjaman. 

Kunci utamanya tidak lain adalah semangat transparansi yang dibangun para pengurus di dalam mengelola koperasi. Ada mekanisme kontrol dari anggota melalui buku anggota dan laporan 3 bulanan. Buku tabungan di bank diupdate setiap bulan. Saldonya selalu sama dengan yang dilaporkan. Itulah yang membuat anggota semakin percaya untuk menyimpan uangnya di koperasi.

Tantangan ke depan adalah soal regenerasi kepengurusan. Mengingat untuk mengelola koperasi yang baik dibutuhkan pengurus yang mempunyai pengetahuan dan kecakapan khusus di bidang koperasi, maka dari sekarang perlu dimulai proses regenerasi dengan melibatkan anak-anak muda Tuak Ehan. Hal penting lain adalah kemauan untuk belajar, mau berkorban baik waktu, tenaga, pikiran bahkan biaya untuk memajukan koperasi dan juga kesabaran untuk melayani anggota yang berbeda-beda watak dan keinginan. 

Mengandalkan pengelolaan koperasi pada segelintir orang saja tentu amat berbahaya bagi kemajuan koperasi Tuak Ehan di masa yang datang. Karena itu, sudah saatnya anak-anak muda Tuak Ehan yang tersebar di Jabodetabek, yang selama ini masih enggan untuk bergabung dalam Tuak Ehan, untuk mau melibatkan diri dan bersatu dalam Perkumpulan Ikatan Keluarga Tuak Ehan Jakarta. "Tuak Ehan" adalah rumah bersama kita, sebagaimana motonya "eket taan tapo tonu, welak taan jin jawa.puin taan uin ehan, gahan taan kahan olo".       

Sabtu, Agustus 04, 2012

Sejarah penyerahan air "Leto Matan" ke Raja Larantuka

oleh: Fidelis Lein



Sekitar tahun 1930-1931, Raja Larantuka bersama penjajah Belanda meminta tua-tua adat di 3 desa (Bama, Blepanawa dan Lewokluok) untuk membangun bak air di mata air "WAI WU". Setelah pemasangan sampai di Larantuka, ternyata debit air tidak cukup kuat untuk mengalir sampai di Kota Larantuka, maka pada tahun 1931-1932, Raja Larantuka bersama penjajah Belanda kembali ke Bama meminta untuk dibangun bak air yang baru, di lokasi baru yaitu di "Wai Matan Suban Poar". Setelah pemasangan pipa selesai, memang air bisa mengalir sampai ke Larantuka, tetapi debit airnya tidak terlalu banyak. Maka pada tahun 1935-1936, Raja Larantuka dan penjajah Belanda, meminta kepada tua-tua adat di 3 desa tersebut agar mereka membangun bak baru di mata air "LETO MATAN". Pada mulanya tua-tua adat menolak keras rencana pembangunan bak di mata air ini, karena menganggap daerah itu keramat. Setelah melaui proses musyawarah, akhirnya para tua-tua adat mengijinkan pembangunan bak air di LETO MATAN. Pada wakti itu dilakukan semacam perjanjian tidak tertulis yang isinya bahwa Raja dan Pemerintah Hindia Belanda sepakat untuk memberikan semacam retribusi tetapi bukan ganti rugi kepada masyarakat di tiga desa tersebut dalam bentuk "DOI PETAKA" (sebutan untuk uang Belanda) tiap bulan. Kalau dirupiahkan, nilainya pada waktu itu "lima rupiah". 
Setelah pembangunan selesai dan air sudah mengalir ke Kota Larantuka dalam volume yang cukup banyak, ternyata Raja Larantuka dan Pemerintah Belanda ingkar janji. Uang retribusi yang tadinya lima rupiah tiap bulan ternyata hanya dikasih "satu petaka", yang kalau dirupiahkan cuma dua setengah rupiah. Setelah itu tidak ada realisasi lagi sampai hari ini.
Pada masa Bupati Manteiro, karena beliau ingin menambah pipa lagi untuk suplai air ke kota Larantuka, baru dilakukan acara ritual adat di mata air. Waktu itu Bupati Manteiro menyumbang 1 ekor sapi dan 1 ekor kambing untuk ritual adat. Karena sapi itu tidak bisa digunakan sebagai hewan kurban menurut adat Lewokluok, maka sapi yang disumbang Bupati itu disembelih di Bama untuk dimakan warga di tiga desa tersebut, sedangkan 1 ekor kambing tersebut disembelih di mata air "LETO MATAN" untuk ritual adat bersama para tua-tua adat saat itu.
· · pernah diposting group facebook: Demon Pagong's Community, December 15, 2011 at 12:14pm